Home SAIMS NEWS The Power of Co-Creation

Login Form



YM

humas_saims

Administrator

IKLAN ANDA

Anda adalah Pengunjung ke

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1008
mod_vvisit_counterYesterday539
mod_vvisit_counterThis week3474
mod_vvisit_counterLast week639
mod_vvisit_counterThis month9897
mod_vvisit_counterLast month16730
mod_vvisit_counterAll144632

We have: 1 guests, 6 bots online
Your IP: 38.107.179.230
 , 
Today: Feb 22, 2012

Who's Online

We have 7 guests online

Link Eksternal blog



Written by Muchlas Samani   
Sunday, 13 March 2011 00:00

The Power of Co-Creation:

 

Buku The Power of Co-Creation: Built it with them to boost growth, productivity, and profits oleh Venkat Ramaswamy dan Francis Gouillart (Free Press, 2011) memaparkan bagaimana Nike (produknya yang kita kenal adalah sepatu), Starbucks (produknya yang kita kenal gerai kopi) dan beberapa perusahaan lain yang berhasil menerapkan co-creation sehingga mampu berkembang pesat, produktif dan meraup keuntungan yang besar. 

Kalau dicermati dengan baik, ternyata yang disebut co-creation adalah melibatkan konsumen dan stakeholders konsumen ke dalam platform perusahaan. Cara yang digunakan perusahaan bermacam-macam, tetapi intinya mengajak/melibatkan/mendorong konsumen dan stakeholders terlibat aktif dalam berinovasi dalam menyempurnakan produk dan servis perusahaan agar sesuai dengan kebutuhan konsumen. Media interaksi yang digunakan sangat beragam, antara melalui pertemuan langsung seperti seminar dan diskusi, lewat web, mailist dan sebagainya.

Sungguh menarik, ajakan tersebut ternyata disambut baik oleh konsumen, terbukti sangat banyak konsumen dan stakeholders yang mengikuti acara yang dirancang perusahaan. Bahkan konsumen dan stakeholders banyak yang kemudian secara berkelompok mengembangkan lebih lanjut acara tersebut agar lebih sesuai dengan minat dan waktu mereka. Wakil perusahaan tinggal hadir, karena segalanya diatur oleh mereka. Semua acara tersebut diarahkan agar konsumen dan stakeholders dapat memberi masukan bahkan ikut merancang penyempurnaan produk maupun servis perusahaan. Yang sangat menarik keikutsertaan konsumen dan stakeholders dalam merancang penyempurnaan produk tersebut, kemudian mengubah mereka menjadi konsumen yang loyal bahkan menjadi pemasar kepada orang lain. Mereka tidak lagi sekedar menjadi konsumen, tetapi sekaligus menjadi tenaga pemasaran tanpa menuntut bayaran.

Bagaimana hal itu dapat terjadi? Mereka yang memberi masukan dan terlibat aktif dalam penyempurnaan produk dan atau servis tersebut, kemudian merasa “ikut memiliki” produk dan atau servis yang dihasilkan. Selanjutnya mereka merasa menjadi bagian dari perusahaan, sehingga terdorong untuk ikut memasarkan produk dan servis yang diracangnya. Bahkan kemudian mereka seakan menjadi relawan perusahaan dalam menyempurnakan produk dan servis berikutnya agar sesuai dengan dinamika kebutuhan konsumen dan sekaligus memasarkan hasilnya. 

Penerapan co-creation tidak hanya berfungsi sebagai wahana need assessment dalam upaya menyempurnakan produk dan servis agar sesuai kebutuhan dan harapan konsumen. Lebih jauh dari itu co-creation ternyata mampu membuat konsumen dan stakeholders merasa menjadi bagian dari perusahaan. Itu yang mungkin menyebabkan beberapa perusahaan bersedia menyeponsori adanya club-club pengguna produknya, misalnya HD Club, VW Club, Honda Club dan sebagainya. Nampaknya anggota club-club seperti itu kemudian menjadi pelanggan yang loyal dan bahkan merasa menjadi bagian atau anggota dari perusahaan, sehingga dengan sukarela terlibat dalam berbagai kegiatan.

Terinspirasi dari buku tersebut dan juga pengalaman di tempat lain, Unesa memulai acara “open house” dengan mengundang sivitas akademika (dosen, karyawan, mahasiswa). Dalam acara tersebut sivitas akademika diundang untuk mengajukan pendapat dan bahkan kritik bagaimana memperbaiki universitas. Sungguh menarik, responsnya sangat bagus. Mahasiswa yang oleh beberapa teman dikawatirkan akan memberikan pendapat atau kritik yang “nakal” ternyata justru sangat bagus pemikirannya. Misalnya gagasan jum’at bersih yang melibatkan pimpinan, dosen, karyawan dan mahasiswa. Juga bagaimana meningkatkan mutu perkuliahan. Mendapati kenyataan seperti itu, saya sampai pada kesimpulan bahwa mahasiswa itu (paling tidak di Unesa) cerdas dan berkepribadian baik. Buktinya, gagasan dan kritik disampaikan dengan santun dan semuanya sangat berbobot.

Saat open house, saya sengaja memberikan nomor HP dan alamat email, serta mengundang peserta untuk tilpun, sms dan ber-email untuk mengajukan pendapat. Hasilnya sangat menggembirakan, walaupun kemudian membuat saya harus menyisihkan waktu untuk menjawab. SMS dan email masuk sangat banyak, dengan berbagai masukkan. Tentu isinya sangat bervariasi, mulai yang memberikan saran sampai yang protes. Namun, secara umum isinya cukup baik dan konstruktif, walaupun bahasanya kadang-kadang menyentak. Yang lebih menggembiarakan, ketika sms dan email itu direspons, berikutnya muncul usulan-usulan yang semakin konstruktif. Sekali lagi saya yakin pada dasarnya mahasiswa Unesa memiliki keinginan untuk memperbaiki kampus.

Ketika gagasan jum’at bersih dengan melibatkan sivitas akademika sebagaimana diusulkan mahasiswa di saat open house diujicoba secara terbatas, ternyata sambutan mahasiswa sungguh luar biasa. Mahasiswa di suatu jurusan, yang selama ini dikenal gedungnya paling “kumuh” justru sangat aktif. Karena sebagian dari mereka, jum’at pagi ada kuliah pembersihan dalam ruangan sudah dimulai kamis malam. Ketika jum’at pagi saya mengunjungi gedung tersebut menjadi kaget, kok sudah bersih dan ternyata sudah dibersihkan kemarin sore. Sungguh luar biasa.

Di saat jum’at pagi bersama-sama membersihkan halaman gedung kuliah muncul celetukan dari beberapa orang, antara lain: “awas kalau ada yang mengotori akan saya lempar batu”. Yang lain menyambung: “pokoknya kalau ada yang buang sampah sembarangan, kita teriaki saja”. Yang lain berkomentar: “kalau bersih ternyata gedung kita cantik ya”. “ini kan ide mahasiswa, pokoknya jum’at bersih itu dari mahasiswa untuk kampus tercinta”. Masih banyak celetukan lain. Intinya mahasiswa senang bersama-sama membersihkan gedung kuliah. Mereka juga sangat bangga dengan mengatakan bahwa kegiatan itu gagasan mahasiswa.

Semangat membersihkan gedung seperti disebutkan di atas ternyata juga terjadi pada karyawan. Karyawan yang membersihkan gedung, setelah selesai melakukan senam pagi. Walaupun sudah berkeringat, tampak sekali karyawan bersemangat membersihkan gedung sambil bercanda. Pengamatan saya, memang beberapa orang yang tampak kurang bersemangat, namun jumlahnya sangat sedikit. Rata-rata mereka melakukan kegiatan bersih-bersih dengan ceria. Saat selesai dan makan kacang hijau yang disediakan oleh kantor, celetukan yang muncul juga mirip dengan mahasiswa.

Dari fenomena tersebut di atas dapat disimpulkan, paling tidak untuk sementara di Unesa, konsep co-creation yang diajukan oleh Ramaswamy dan Gouillart yang didasarkan atas pengalaman di Nike dan Starbuck, ternyata juga dapat diterapkan di dunia pendidikan. Semoga.
Diposkan oleh Muchlas Samani
Diambil dari Blog pribadi beliau: http://muchlassamani.blogspot.com/

Add comment


Security code
Refresh

Last Updated on Thursday, 07 April 2011 01:28