|
Ayah-Ibu, aku belum mengerti sepenuhnya mengapa aku kadang berbuat “nakal”.
Ingin membantahmu, mengabaikanmu, dan kadang aku tidak mau mendengar perkataanmu.
Aku tidak mengerti sepenuhnya, mengapa aku terkadang lebih memilih orang lain untuk diajak bicara. Aku mengerti banyak hal untuk membuatku sadar, bahwa aku harus berterima kasih kepada kalian. Rumah besar, mobil, makanan lezat, dan semua yang kuinginkan selalu ada.
Aku juga mengerti, aku harus minta maaf karena semua hal yang kulakukan seperti sebuah “pemberontakan” bagimu.
Ayah ….
Ayah sudah bekerja keras untuk membuatku bisa bersekolah di sekolah yang bagus dan mahal. Ayah sudah memberikan kesempatan padaku untuk membeli mainan yang kuinginkan. Membuatku bisa tau dunia di luar sana dengan main internet.
Tapi Yah ….
Waktumu begitu berharga untuk bercanda denganku …
Aku hanya bisa chatting dengan teman dan bermain game on line
Aku mengusir semua keinginanku untuk bercanda denganku
Karena aku belum tau, mengapa aku tak mampu menikmati kebersamaan kita
Terkadang, aku sampai tak tahu apa yang kuinginkan darimu …
Aku hanya tau bersamamu itu indah …
Meski aku tak bisa mengatakannya
Ibu …
Ibu sudah berjuang hebat untuk membimbingku. Membuatku merasa aman dan terlindungi. Ibu sudah membelaku disaat yang kuperlukan. Membuatku mendapatkan apa yang kuingin, dengan semua rengekan dan tangisanku.
Tapi Bu …
Waktu Ibu semakin sempit untuk mendengarkan ceritaku
Aku punya banyak pengalaman yang tak bisa kubagi begitu saja
Karena aku belum tau, mengapa aku tak merasa Ibu mendengarkanku
Ceritaku berlalu begitu saja dengan anggukanmu
Terkadang, aku sampai bosan dengan ceritaku sendiri
Aku hanya tau perkataamu sangat membuatku tenang
Meski aku tak mampu mengatakannya
Ayah-Ibu, aku sangat ingin pelukan hangatmu
Sebuah pelukan dari hati, berbagi kasih, dan memberi arti.
Ayah-Ibu, kabulkanlah keinginanku …
|