|
Ruang Kelas ILALANG SD SAIMS, sabtu 23 Oktober 2010, 09.00 – 11.30.
Alhamdulillahirabbil Alamin, hari Sabtu 23 Oktober 2010 telah dilaksanakan diskusi bersama Prof. Asip Hadipranata dengan sukses. Alhamdulillah juga, wali murid / orangtua Kelas V SD SAIMS yang datang hampir lengkap. Sebagian orangtua telah memberi konfirmasi untuk tidak hadir, karena ada urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Dan sebagian orang tua tidak hadir tanpa memberi konfirmasi apapun. Mengingat bahwa model pembelajaran anak di SAIMS sangat membutuhkan peran aktif orang tua, semoga pada silaturahmi berikutnya akan bisa bergabung dan saling memberi makna.
Diskusi ini bertujuan untuk sinkronisasi pembimbingan ananda antara orang tua di rumah dan Ustadz/ah di sekolah sebagai “sosok” orang tua di sekolah. Dengan demikian diharapkan pengalaman yang dibagi Prof. Asip hari ini akan memberikan wawasan cara membimbing ananda dalam menuju pribadi yang mengerti dirinya dan mengenal Tuhannya. Terutama untuk menyiapkan mental ananda dalam menghadapi tantangan dalam kehidupannya. Amin …
Adapun hasil diskusi hari ini mengerucut dengan tema “RUMAHKU SURGAKU”. Hasil diskusi adalah sebagai berikut:
Sebagian besar ananda kelas V mengalami problem ketidak sinkronan antara USIA KALENDER dengan USIA MENTAL. Analisa yang dilakukan terhadap hasil “gambar” ananda dan orangtua didapati bahwa cukup banyak orangtua yang alami “STRESS”, yang berimbas kepada anaknya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tiga hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan stress pada orangtua adalah: 1) Tawakkal, berserah diri, pasrah ngalah; 2) Istiqomah, madep mantep; 3) Bersyukur.
Sebagian besar anak-anak di kelas V menjadikan Ibunda sebagai figur utama. Jadi diharapkan Ibunda yang bisa membimbing dengan keluasan kasih-sayangnya. Peran ayahpun harus mampu menciptakan keseimbangan dalam membangun karakter anak. Sosok ayah yang lebih sering “ditakuti” akan lebih baik jika berubah menjadi “dihormati”.
Pola asuh yang diterapkan sebaiknya mampu memberi umpan (dorongan bathin) bagi ananda. Akhirnya anak akan menemukan hikmah dibalik peristiwa yang dialami. Peran orang tua sebagai pengingat ibadah, terutama sholat lima waktu juga sangat penting. Terpenuhinya kebutuhan dunia harus disempurnakan dengan ketaatan kepada Allah SWT. Dengan demikian, orang tua juga telah saling bekerjasama untuk MENUMBUHKAN INTUISI (indera ke-6). Intuisi tersebut bisa ditumbuhkan dengan selalu berpikir positif.
Membisikkan SUWUK (Sembahyang Untuk menciptakan Watak yang Unggul dan memiliki Kepribadian) ketika ananda tidur dengan keinginan dan permintaan maaf. Hal ini dilakukan karena dalam alam bawah sadar manusia lebih bisa menerima masukan dari orang lain.
Rajin pangkal pandai, bukan Cerdas pangkal pandai. Jadi yang dibutuhkan adalah bimbingan agar anak menjadi rajin, dalam segala hal. Ke-rajin-an ananda itulah yang akan membantunya untuk menjadi pandai, sehingga bisa mengatasi semua hambatan yang dihadapinya. Kerajinan juga akan membantu anak secara sistematis untuk mencapai kemampuan yang lebih baik daripada sebelumnya. Anak yang rajin, akan lebih banyak memiliki kesempatan terbuka cakrawalanya, sehingga mampu menyerap informasi yang lebih banyak dari yang lain.
Yang paling utama adalah menciptakan rumah sebagai surga dan rumah untuk berdzikir. Segala kegiatan dalam rumah maupun aktivitas orang tua dibicarakan dengan anggota keluarga lain (anak). Setiap orang berhak mengungkapkan persoalan dan keinginan masing-masing. Sikap tegas diwujudkan dengan perkataan tegas, tetapi dengan redaksi yang lembut. Di samping itu, pelajaran memberi arti perjuangan untuk mendapatkan apa yang diinginkan juga harus diberikan. Perjuangan untuk mendapatkan uang sangat penting untuk melahirkan sikap jujur ketika anak diijinkan untuk mengambil uang di dompet sang ayah. Dengan konsekuensi, anak harus melaporkan berapa jumlah dan untuk apa uang tersebut.
Siklus keberhasilan yang sebaiknya diterapkan dalam rumah tangga adalah; Keberhasilan bapak untuk anak, keberhasilan anak untuk ibu, dan keberhasilan ibu untuk bapak. Karena sang Ibu lebih perasa dan nyambung kepada anaknya. Ketika anak bermasalah, orang tua yang memiliki peran penting untuk menjadi tempat curhat. Ada banyak kesempatan orang tua untuk memberi bimbingan dan membuat anak mengakui dirinya. Sehingga pengakuan itu akan menumbuhkan rasa butuh untuk berusaha
Penghapusan file yang kurang menyenangkan di memori otak ananda dilakukan dengan tidak melakukan pengulangan peristiwa yang pernah menjadi “trauma” baik yang pernah terjadi pada orangtua maupun yang pernah terjadi pada anak. Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu; menggali kesenangan anak dengan pengarahan yang benar, agar bisa menjadi hiburan yang menyenangkan. Semisal dengan mengetahui terlebih dahulu rangsangan indera yang mengalami masalah dalam diri anak tersebut. Jika indera pendengaran yang lebih membutuhkan, maka fasilitasilah dengan kegiatan mendengarkan musik, terlebih lagi dengan musik instrumentalia
Pribadi yang dikembangkan pada anak adalah sebagai berikut:
a. Keseimbangan rasio dan emosi. Alangkah baiknya jika kecerdasan emosi memiliki ruang yang lebih luas.
b. Keserasian ego baik dengan diri maupun dengan lingkungan
c. Belajar hidup tanpa keluhan
d. Menejemen diri dalam lingkungan yang menjadi tempat sosialisasi
e. Membiasakan diri bersyukur untuk mengingat rasa salah dan menumbuhkan sikap lapang dada
f. Keterbukaan ayah kepada ibu dan sebaliknya, diharapkan akan mampu memberi teladan keharmonisan bagi si anak
Salahsatu indikasi bahwa anak “memperhatikan suatu hal dengan baik” adalah saat pengalaman secara fisik yang dilihatnya mampu digambarkan dengan detail. Seperti kegiatan pengamatan benda dan ia mampu menggambar/melukis benda dengan detail.
Kekhawatiran yang berlebihan akan segala sesuatu dapat mengakibatkan kekufuran. Karena ada Sang Maha Pengatur yang pasti akan memberi jalan untuk kebaikan hambanya. Amin .. . Karena itu, selalu menciptakan rasa kasih sayang dengan kerukunan dalam persaudaraan adik-kakak. Dengan mengungkapkan kasih sayang yang pernah dilakukan kakak kepada adik dan sebaliknya akan memberi pengertian kepada keduanya.
Pembimbingan di sekolah dan di rumah harus sinkron dengan saling menjadi solusi. Jika di rumah memiliki “keluhan” sekolah harus siap menerima, sebaliknya juga demikian. Hal tersebut akan melahirkan keterbukaan menuju kebaikan semua.
Sebaiknya “POTRET DIRI” ananda dilakukan setiap tiga bulan. Dengan demikian perubahan kepribadian bisa dipantau dan diharapkan selalu menuju yang lebih baik. Amin.
Anak bisa jadi perhiasan.
Namun, bila kita salah membimbingnya, maka anak akan jadi fitnah.
Terimakasih.
|