Login Form
ForSAIMS
komentar anda
Konsep Pendidikan SMP
Apakah di SAIMS ada asrama utk putri
29.01.12 16:28
Kelulusan SD
selamat malam, ada yg ingin sy tanyakan mengenai w...
09.01.12 13:53
PENERIMAAN SISWA BARU
Mohon maaf, penerimaan karyawan tidak bisa diakses...
27.12.11 02:28
PENERIMAAN SISWA BARU
Assalamu'alaikum wr.wb. mohon info tentang jadwal ...
14.12.11 00:08
Gambar Anak
ingin melihat kretifitas
08.12.11 05:32
about our friends
Anda adalah Pengunjung ke






![]() | Today | 58 |
![]() | Yesterday | 282 |
![]() | This week | 58 |
![]() | Last week | 3044 |
![]() | This month | 5458 |
![]() | Last month | 14162 |
![]() | All | 168105 |
Your IP: 174.129.237.157
,
Today: Apr 15, 2012
Who's Online
We have 2 guests online| KONSEP SAIMS |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Tuesday, 12 August 2008 09:26 |
|
A. Memahami Konsep Alam
Banyak pengetahuan yang dapat diambil dari alam. Oleh karena itu wajar jika banyak sekolah mengambil alam sebagai sumber inspirasi belajar. Di sekolah tersebut disediakan lahan yang luas. Anak dikenalkan alam sejak dini, diajak turun ke sawah, menangkap ikan, hingga berjalan-jalan ke hutan. Mereka diajari ketrampilan hidup di alam terbuka. Konsep alam (nature) seperti itu tidak salah memang tetapi dalam perspektif masa mendatang segera terasa demikian romantik. Alam anak kota berbeda dengan alam anak daerah. Alam anak kota adalah keramaian lalu lintas, plaza, bank, playstation, hingga taman kota yang sempit. Anak-anak kota, telah tercerabut dari dunia yang melingkupinya. Mereka hidup di dalam rumah, aktivitas bermainnya dibatasi tidak jauh dari keluarga. Kebebasan menghirup udara segar dan berinteraksi di luar rumah relatif berkurang. Dalam konteks alam modern yang demikian, maka anak tetap perlu dikenalkan dengan alam yang mengitarinya. Ia harus diajak memasuki alamnya, mempelajari semua ketrampilan yang dibutuhkan untuk bisa survive di dalamnya, mengakrabkan kembali dengan habitat dan kehidupan sosialnya. Konsekuensinya, kegiatan pembelajaran anak tidak harus di dalam kelas. Mereka perlu juga ramai-ramai “digiring” ke pasar. Mencoba-coba bertransaksi. Menabung di bank mengoperasikan ATM, ke bandara dll. Pemahaman seperti inilah yang diacu oleh SAIMS dalam menyelenggarakan proses pembelajarannya. Pada sisi lain kata alam juga dipahami sebagai sebuah proses yang alami. Secara alami setiap anak pada hakikatnya adalah gemar belajar. Mereka terus-menerus belajar setiap hari sepanjang waktu. Naluri ingin tahulah yang membuat manusia terus belajar. Rasa takjub terhadap sesuatu mendorong orang ingin menyibak misterinya, dan lewat belajar itu semua bisa terungkap. Bertumpu pada kenyataan ini maka SAIMS berpendirian bahwa belajar akan membawa hasil yang maksimal jika tetap mendasarkan diri pada prinsip-prinsip alami belajar. Belajar akan menggairahkan jika melibatkan seluruh indra dan hati anak. Untuk itu seluruh proses pembelajaran perlu mengadaptasi semua prinsip alami belajar itu. Guru perlu mengembangkan model belajar sedemikian rupa sehingga membangkitkan semangat anak untuk belajar. Alam juga punya makna lebih jauh yaitu mendekati anak secara alamiah, dunia anak. Anak bukan miniatur orang dewasa, anak adalah anak dengan keunikan dunianya sendiri. Suka manja, ingin selalu bermain, gelak tawanya lepas, minta dilayani, empatinya sangat dominan, selalu ingin tahu, sangat lugu dan polos. Maka anak tidak dipandang sebagai objek, melainkan subjek bersama-sama pendidik mengoptimalkan kemampuannya sejak dini. Sedangkan kata “insan” yang akhirnya melengkapi nama Sekolah Alam berasal dari bahasa Arab. “Insan” berasal dari akar kata nasiya yang berarti “lupa.” Manusia mempunyai sifat pelupa. Karena dilingkupi sifat nasiya inilah manusia selalu membutuhkan pengingat. Sementara itu Allah menurunkan Al-Qur’an atau Adzikra yang berarti pengingat. Manusia yang pelupa butuh pengingat Al-Qu’ran. Oleh karena itu diharapkan, para siswa nanti bakal menjadi manusia yang selalu ingat Tuhannya, menjadi orang yang terpuji dan paripurna. SAIMS adalah sebuah lembaga pendidikan yang berupaya membentuk insan-insan mulia.
B. Konsep Dasar Pendidikan SAIMS
Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis agama, maka pembinaan akidah dan akhlaq Islam tetap menjadi pondasi utama. Pembelajaran yang bersifat pembiasaan dan aplikatif lebih dijadikan acuan daripada pembelajaran teoritis-dokmatis yang bersifat penumpukan pengetahuan (kognitif) belaka. Semua proses pembelajaran mengarah kepada pengembangan potensi anak sesuai dengan kemampuan dasarnya yang pada gilirannya akan menjadi manusia yang utuh. Menjadi fi ahsani taqwim yaitu insan yang benar-benar mendudukkan diri sebagai hamba Tuhan, taat beribadah dan sebagai makhluk sosial mampu memegang amanah dan pandai berinteraksi dengan sesama. Semenjak awal SAIMS dirancang sebagai sebuah sekolah yang tidak membebani siswa. Sebuah sekolah yang membuat anak jadi riang tatkala belajar. Mereka merasa senang dan kerasan berlama-lama di sekolahnya. Oleh karena itu, secara umum, praktik pendidikannya menggunakan tiga konsep pembelajaran yaitu integrated learning, joyful learning, dan cooperatif learning. Pendekatan integratif mendasarkan dari pada asumsi bahwa anak-anak, operasi berfikirnya adalah konkret, manipulatif dan terpadu (Piaget) oleh karena itu pembelajaran yang relevan untuk mereka adalah pembelajaran integratif. Berikutnya pendekatan joyful learning. Inti pendekatan ini meyakini bahwa anak akan melakukan segala sesuatu secara maksimal bila dia suka dan paham benar apa manfaatnya bagi dirinya. Sedang pembelajaran kooperatif akan banyak memberi keseimbangan yang baru di tengah model pembelajaran konvensional yang cenderung individualistik, yang mengunggulkan kompetisi sampai-sampai anak kerap menjadi tertekan dan terasing. Model pembelajaran di SAIMS selalu bersifat terpadu, kontekstual, serta menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual. Lingkungan kelas dibuat berpusat kepada siswa dan siswa dilibatkan secara penuh, aktif, dan kreatif.
Secara historis, pada awalnya sekolah tidak lain adalah proses magang. Pemagangan (apprenticeship) pada masyarakat yang tradisional adalah proses mempelajari suatu keahlian dari seseorang, suatu proses bekerja sambil belajar. Sebagai istilah kata magang bolehlah disebut ketinggalan zaman, tapi sebagai esensi magang seharusnya tetap menjadi acuan sekolah, kendati kehidupan sudah beranjak jauh mengikuti pesatnya perkembangan teknologi dan kompleksitasnya dunia modern. Di zaman modern sekolah menjadi semacam metamorfosis dari magang, sebab para orangtua tidak sanggup lagi memberikan ketrampilan yang dibutuhkan anak guna menyongsong masa depan.Untuk memberikan ketrampilan hidup yang lebih kompleks maka sekolah kemudian memberikan ilmu, mengajarkan pengetahuan, dan ketrampilan kepada siswa. Ilmu tersebut kemudian lazim dikenal dengan nama mata pelajaran. Berpegang pada hakikat magang tersebut, maka materi pelajaran di SAIMS tidak berangkat dari disiplin ilmu murni. Materi pelajaran harus tetap berorientasi pada kebutuhan siswa di masa mendatang. Pertanyaan harus dimulai dari: pengetahuan dan kecakapan apa yang relevan dan harus dimiliki agar siswa sukses mengarungi kehidupannya kelak? Kompetensi kehidupan inilah yang menjadi sasaran pembelajaran. Konsekuensinya tidak semua materi yang ada dalam disiplin ilmu murni perlu diajarkan. Tidak semua hasil kajian ilmu dan apa-apa yang menjadi topik hangat disiplin ilmu murni tertentu dimasukkan menjadi materi pelajaran. Semua harus mengacu kepada kompetensi apa yang akan diberikan kepada anak didik. Baru kemudian menyusun materi pelajaran apa yang cocok untuk mendukung pengembangan kompetensi itu. Jadi mata pelajaran hanyalah alat pendukung dalam mengembangkan potensi anak didik. Keberhasilan sekolah bukan terletak pada tingginya nilai rapor atau ijazah anak, tetapi apakah out put sekolah itu bisa sukses ketika terjun di masyarakat kelak. Setelah proses pemagangan di sekolah itu apakah para alumnus sekolah bisa berhasil menerapkan ilmu yang diterima dari sekolah ataukah gagap. Sejak awal SAIMS menerapkan kurikulum berbasis kompetensi. Tetapi jenis kompetensinya tidak diturunkan dari mata pelajaran (sebagaimana terlihat pada beberapa bagian Kurikulum Pemerintah 2004). Kompetensi di SAIMS adalah kompetensi kehidupan. SAIMS berangkat dari kompetensi apa yang harus dikuasai oleh siswa, baru kemudian dicarikan materi atau bahan ajarnya. Implikasinya materi pelajaran bukanlah tujuan melainkan hanya alat untuk mengembangkan kompetensi anak.
3. Menumbuhkan Kebhinekaan
Pada prinsipnya SAIMS menjunjung tinggi kebhinekaan. Setiap siswa adalah berbeda, maka keunikan masing-masing siswa harus dihargai. Bentuk penghargaan ini berupa cara memperlakukan mereka hingga metode pembelajaran yang berupaya mengakomodasi perbedaan yang ada. Siswa dikembangkan sesuai potensi dasarnya, selebihnya dia boleh menjadi apa saja yang sesuai dengan dirinya. Terserah kelak apa dia ingin menjadi seperti HAMKA, KD, Habibie, atau Sitir Nurhalizah, yang penting SAIMS telah menyiapkan basicnya. Sisi seragam sekolah juga dirancang dengan prinsip tetap mengembangan kesadaran akan adanya perbedaan. Siswa wajib menggunakan seragam sekolah hanya dua hari (Senin dan Selasa) selebihnya berpakaian bebas meski tetap perlu disesuaikan pembelajaran (Jumat berbusana Muslim, Sabtu pakaian olahraga). Kebebasan ini membuka peluang bagi tumbuhnya kebhinekaan. Membiasakan siswa menerima perbedaan semenjak kecil. Siswa putri juga tidak diinstruksikan wajib mengenakan jilbab. Sebab mengenakan jilbab seharusnya berangkat dari kesadaran, bukan dari pemaksaan. Maka peran ustad/ustadzah tidak lain adalah memberikan penyadaran secar intens mengenai busana muslim serta memberi teladan berbusana muslim yang baik.
4. Trampil Mengolah Informasi
Sekolah SAIMS tidak tergoda untuk menjejalkan banyak materi pelajaran kepada siswanya. Di sekolah ini anak diajak belajar menangkap informasi lalu mengolahnya. Informasi itu bisa saja bernama IPA atau matematika. Mengolah informasi berkaitan dengan skema (jamak: skemata) yang sudah terbentuk di otak anak. Mengetahui informasi jadwal kereta dengan mengetahui jalur-jalur lin angkota adalah dua skemata informasi yang berbeda. Bila disuruh menghafal kedua-duanya bisa terekam dengan baik di otak anak. Tetapi yang penting tentulah bagaimana memadukan dua skemata itu, mengolahnya menjadi bermanfaat bagi kebutuhan praktis dirinya. Manfaat itu, umpamanya, bisa terlihat tatkala suatu ketika dia dalam perjalanan sendirian. Di saat kereta api sudah berhenti dan dia keluar dari gerbang stasiun, dia segera bisa memilih (mengambil keputusan) angkutan/lin apa yang bisa mengantar dirinya ke rumah dengan cepat dan efisien. Kemampuan mensintesakan dua skemata dan mengolahnya itulah yang urgen. Tak banyak manfaat yang bisa diambil jika anak diberi setumpuk pengetahuan kalau dia tidak dilatih mencari kaitan-kaitannya atau mensintesakannya. Anak tak lebih hanya menjadi “kamus berjalan”, tahu difinisi dan rumus-rumus abstrak belaka. Pembelajaran seperti ini secara tidak langsung membawa kita kepada pendekatan konstruktivisme. Sebuah pendekatan falsafah ilmu yang meyakini bahwa pengetahuan seseorang merupakan hasil konstruksi (bentukan)-nya sendiri. Berkait dengan upaya melatih siswa mengolah informasi ini maka satu hal yang tidak dapat tinggalkan adalah pemanfaatan teknologi informasi. Oleh sebab itu SAIMS terus berusaha melengkapi diri dengan sarana-prasana berbasis teknologi informasi tinggi.
C. Gedung dan Suasana Sekolah yang Familiar
Guna menunjang keberhasilan pendidikan berdasar konsep-konsep tersebut di atas maka SAIMS menyiapkan sarana dan prasarana sekolah yang relevan dan memadai. Fasilitas ini meliputi saran fisik gedung, alat dan sumber belajar, hingga suasana di luar kelas. Secara umum gedung beserta semua fasilitas sekolah diarahkan pada dua fungsi. Pertama, untuk mencipta suasana yang familiar dan nyaman bagi siswa, iklim yang jauh dari kesan yang menekan. Kedua, semua benda yang ada di sekolah, mulai dari pagar sekolah, lantai, warna dinding, hingga ventilasi kelas harus berfungsi sebagai media pembelajaran. Bentuk fisik sekolah SAIMS dibangun dengan pendekatan back to nature, menonjolkan jiwa yang menyatu dengan alam. Kelas didesain dengan banyak jendela sehingga terasa melegakan. Sirkulasi udara yang mengalir bebas membuat anak merasa segar sepanjang jam sekolah. Penataan ruang sengaja dibuat menyerupai suasana di rumah agar anak merasa kerasan (homy) dan dapat berinteraksi sosial dengan teman-teman secara wajar. Setiap ruang kelas sengaja dibuat bersudut delapan karena alasan estetis dan fungsional-edukatif. Sudut delapan lebih membuat ruang terasa lebih lapang dan meriah. Sedang secara fungsional-edukatif membuat anak tidak merasa ada di deretan belakang atau depan Ukuran ketinggian bangku dan meja tulis mengikuti ergonomic dan fisiologis siswa. Bentuk meja dibuat dalam aneka bentuk geometri (trapezium, segi tiga, atau setengah lingkaran). Bentuk ini memungkinkan meja digabung untuk belajar secara berkelompok. Penataan bangku dan background kelas yang sering diubah agar membuat anak kerasan dan merasakan suasana yang selalu baru. Di luar setiap kelas tersedia rak untuk sepatu dan sandal. Di sekolah siswa mempunyai sandal yang dapat dipergunakan sewaktu-waktu bila diperlukan sekaligus memberi kesan serasa tinggal di rumah. Sementara itu penataan bagian luar kelas juga mendapat perhatian. Halaman sekolah dibuat luas lengkap dengan arena bermain yang edukatif, menarik, dan menantang. Seperangkat sarana permainan bercorak petualangan, dibuat untuk melatih keberanian dan kepercayaan diri anak. Fasilitas lainnya berupa : b. Green house
|
| Last Updated on Saturday, 02 April 2011 07:00 |
Konsep








